“Cinggoling” Wisata Budaya Gunungkidul

cingguling
Cing..goling..Cing..goling…”, sambil berjalan beriringan puluhan warok berteriak sambil sesekali mengejar seorang pria yang dirias menyerupai wanita berkain jarik. Sementara itu ,tepat di pinggir kali Kedung Dawang pada lokasi yang sama, sesepuh masyarakat Gedangrejo sedang khidmat memimpin doa.
Siang ini (29/8), perhelatan seni budaya Cincinggoling kembali dilaksanakan. Upacara Cingcinggoling adalah sebuah simbol ritual perjalanan Wisang Sanjaya, atau Kyai Gedangan dengan para pengikutnya yang dilaksanakan setiap musim kemarau setelah panen, sebagai simbol rasa syukur atas pemberian keselamatan dan rejeki yang melimpah dari hasil pertanian. Perhelatan ini telah ada sejak abad ke-15 hingga sekarang. Adapun hari yang dipilih adalah hari Senin atau Kamis dengan pasaran Wage atau Kliwon.
Cerita rakyat ini mengisahkan pelarian prajurit Majapahit, Wisang Sanjaya dan Yudopati, yang membuat bendungan di aliran Kali Kedung Dawang, sebagai penghormatan terhadap para leluhur masyarakat Dusun Gedangan, Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo.
Wisang Sanjaya atau Kyai Gedangan sangat memperhatikan kehidupan rakyat kecil terutama para petani. Apalagi jasa masyarakat Gedangan terhadap keluarganya sangat besar, dalam membantu pelariannya.
Akhirnya Kyai Gedangan memutuskan untuk membuat bendungan. Sungai Kedung Dawang yang memecah desa Gedangan dengan desa lain dibendung agar airnya dapat dimanfaatkan oleh rakyat. Untuk melaksanakan gagasan itu, Kyai Gedangan memerintahkan Kyai Tropoyo untuk memimpin rakyat bergotong royong membuat bendungan. Dalam beberapa hari jadilah bendungan Sungai Kedung Dawang. Bendungan dari tanah yang panjangnya 40 meter telah terwujud. Namun ketika hendak membuat selokan ada beberapa kesulitan. Teringatlah Kyai Gedangan pada sahabatnya yang bernama Yudopati, pelarian Majapahit yang saat itu tinggal di Desa Simo. Yudopati memiliki pusaka yang berupa cis (tombak kecil). Pusaka itu diibaratkan dalam bahasa Jawa “ ditamaake gunung jugrug, segara asat”. Dan dalam waktu satu malam selokan itu terwujud. Rakyat Gedangan takjub melihatnya.
Setelah irigasi dan bendungan Kali Kedung Dawang terbangun dan mengalirkan air sungai ke berbagai dusun, maka hasil pertanian pun meningkat. Untuk mengingat akan jasa-jasa mereka, rakyat melakukan perhelatan, berbagi kebahagiaan atas keberhasilan sawah mereka untuk dijadikan sedekah di lapangan dekat bendungan Kedung Dawang diiringi hiburan rakyat yaitu tarian Cingcinggoling.
Cingcinggoling berasal dari kata cingcing dan goling. Cingcing menggambarkan bagaimana istri Kyai Gedangan menyingkapkan kainnya (jarik) untuk berlari lebih cepat dalam menghindari gangguan para pemuda yang menggodanya. Dan goling adalah melambangkan bagaimana para pemuda yang mengganggu istri Kyai Gedangan terguling-guling setelah Kyai Gedangan membunyikan cemetinya. Goling juga berarti tergiur hati atau imannya kurang kuat dalam mengendalikan syahwatnya.

This entry was posted in Tak Berkategori.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Anda dapat menggunakan tag dan atribut HTML: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>